Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2024

Bernadya, Benar Dia?

“Sifat baikmu yang orang tahu. Itu karanganku. Sifat aslimu yang hancurkanku. Mereka tak tahu.”

(“Kini Mereka Tahu” - Bernadya)



Tahun 2024 yang sudah hampir habis, dan saya masih merasakan "ke-kurang-an" dari tulisan-tulisan yang terbit di laman Mojok.co. Baik itu kurang berkesan, kurang relevan, kurang menarik, kurang menggelitik, kurang berguna, dan kurang membuat saya bertahan untuk menekuni membaca sebuah tulisan saja hingga selesai di laman tersebut.

Termasuk untuk wacana yang terbit mutakhir ini.

Apakah saya mendengarkan lagu ciptaan Bernadya? Ya.

Apakah saya menyimak dan terkesan dengan lagunya? Ya, karena saya belakangan--pada Rabu siang (18/09/2024) misalnya--menggumamkan dan menyenandungkan sepenggal lirik lagunya selagi bekerja menghadap komputer.

Seberapa berkesan saya atas lagu ciptaannya? "Cukup" artinya sedikit di atas "biasa saja". Saya terpagut dengan timbre vokalnya, lirik bersahaja dan curhat lugas terang--dengan kata lain jujur. Cukup itu saja.

Apakah saya punya ketertarikan lebih mendalam atas lagu-lagunya? Sejauh ini tidak (atau belum).

Maaf, tapi boleh tidak saya menyampaikan pandangan itu? Boleh ya. Ya, sama juga seperti membaca buku. Tidak semua judul buku harus sudah kita (saya, kamu, siapapun) baca. Saya membandingkan buku seperti seorang-demi seorang yang kukenal. Sebuah buku, sebuah cerita, seorang manusia, sepenggal kisah dan rasa. Mereka, satu demi satu, kita kenal dalam perjumpaan di sepanjang hidup kita.

Saya merasa perjumpaan dan perkenalan dengan seorang baru itu ibarat pertemuan yang terasa “sudah diatur” oleh Suatu Kekuatan yang Berada Di Atas; semesta, atau sebutan lain untuk energi semacamnya. Seseorang baru hadir di hadapan dan sekitarku, sejalan dengan pergerakan tubuhku meruang di satu demi satu tempat.

Mereka hadir atau dihadirkan sesuai jejaring yang menghubungkanku dengan mereka: tugasku, tugas mereka, lingkungan sekitarku dan sekitar mereka. Bisa jadi suatu kali pertemuan mengesankan, bisa biasa saja, bisa pula tidak berkesan samasekali, bahkan mungkin membuat kita menggumam: “Ih, dia orangnya ‘enggak banget’!”

Sampai suatu ketika, terkadang jika kita menganggapnya keberuntungan, seseorang tertentu kita nilai baik, berkesan hangat, positif, dan membangkitkan perasaan-perasaan--menyitir puisi Gunawan Maryanto--”yang menyusun sendiri petualangannya”.

Di lain waktu dan cara, bisa juga kesan dan keasyikan kita mengenali dan bergaul dengan sebuah bacaan, tersusup-tutupi dengan isi konten media atau buku lainnya. Hubungan dengan seseorang yang sedang kuakrabi pun dapat tertindih-bagi dengan perhatianku kepada orang-orang lainnya.

Menyoal Bernadya, seingatku sekira beberapa minggu sebelumnya, awal September, salah satu konten di akun Instagram sebuah media nasional mengulas kesan-pesan di balik lagu-lagu Bernadya. Jujur, aku yang kala itu masih jauh lebih tidak familiar dengan Bernadya dan lagu-lagunya, kurang tersentuh (atau merasa “relate”--sebutan populer anak muda kiwari) dengan lagu-lagu Bernadya.

Konten itu seakan dengan garis bawah tebal menekankan lagu Bernadya mewakili kesedih-galauan remaja atau kalangan pemuda kebanyakan. Saya tidak begitu paham, dan karena itulah saya kurang begitu tertarik dengan unggahan konten informasi tersebut.

Lantas, saya jadi semakin bertanya-tanya saat menemukan konten terkait di akun Instagram Mojok.co tentang lirik lagu Bernadya. Barangkali perasaanku tidak berubah, belum bertualang di lipatan-lipatan kalimat dan frasa keputusasaan-patah hati-kesal-kecewa anggitan Bernadya. Sampai hari ini, di saat kata-kataku berujung titik di sini.

Mungkin, Mojok.co dan Bernadya belum cocok dengan selera bacaan dan musik saya. Sebagaimana beberapa buku tidak harus tuntas saya baca hingga akhir, pun tidak semua orang perlu dan harus saya kenal dan mereka mengenali saya. Ya, kan?


18-09-2024, pukul 23.33 Wita.

Senin, 07 Desember 2015

Dua Dewa Vokalis Dewa 19



DEWA 19 ada dua versi. Pertama, dengan vokalis Ari Lasso (1991–1999), kedua ialah saat vokalis digantikan oleh Elfonda Mekel atau Once (1999–2011).

Menurut seleraku, suara Elfonda Mekel tidak kurang menarik daripada Ari Lasso. Namun, lagu-lagu Dewa 19 saat era Ari Lasso jelas berbeda dengan warna lagu yang dinyanyikan oleh Once sebagai vokalis utama. Dan setelah didengarkan lebih intens dan berulang kali, Dewa 19 era Ari Lasso lebih gres: menyentuh.
Maka, saat Ari Lasso harus digantikan lantaran terkena kasus narkoba, grup musik Dewa 19 jelas bukan entitas tunggal. Ia bukan sesuatu yang ada dan digerakkan oleh band itu begitu saja. Orang-orang di dalam grup musik itulah yang punya peran lebih menentukan daripada eksistensi band itu sendiri. Sebuah grup musik atau band adalah perkumpulan orang-orang jago bermusik dengan dilandasi satu tujuan bersama.
Maka, struktur dihidupi dan bakal hidup lestari oleh mati-hidupnya agen—kumpulan orang-orang di dalam struktur. Sementara itu, agen terkuat, baik secara pengaruh, tanggung jawab, ataupun cinta yang besar bagi struktur tersebut, dialah yang akan menentukan. Dalam Dewa 19, agen yang terkuat itu ialah Ahmad Dhani.
Semenjak Ari Lasso tanggal, Dewa 19 mungkin sudah mati—atau paling sekadar layak tercatat di buku-buku pengetahuan musik. Namun, bersyukurlah atas kejeniusan Dhani. Berkat Dhani, DEWA 19 sebagai salah satu super band di Indonesia bertahan setidaknya lebih dari sepuluh tahun sejak 1999 hingga akhirnya bubar pada 2011.


Elfonda Mekel, seorang sarjana hukum asal Makassar yang berkembang dahulu sebagai biduan kafe, ialah penyanyi dengan karakter vokal rock yang tinggi dan berserak. Ahmad Dhani pintar menemui dan menemukannya. Tapi, dia jauh lebih keren saat merekrut Ari Lasso, seorang penyanyi lelaki dengan jangkauan suara yang tinggi, pop, dan ah, mendengungkan gendang telinga yang kelu oleh bungkaman derit-derit jalanan kota.(*)

Jumat, 06 November 2015

KELUT



(Buat Antonius Erwin Zubiyan; Risky Summerbee and The Honeythief; Teater Garasi)

Gelap. Mati. Kata-kata bergelayutan tak kuat pada dahan perasaan yang duka. Tak kukira, sungguh tak terkira, waktu menentukannya untuk segera pergi. Jelas tidak akan kembali. Hanya jejak-jejak dan rekaman ingatanku—mungkin kami, yang lain, juga masih ingat—segala keceriaan dan ketenangannya selagi memainkan irama musik: dari gitarnya, dari pianonya.
 
Kelut. Orang-orang esok berkumpul mengusung keranda dan mengantarkannya. Ke sudut ruang itu, menjauh dari riuh: manusia penuh berdesak mengerubungi panggung sekitar seperti saat dia tampil menghibur publik.

Kini, riang nada saat kau memetik senar gitarmu, ialah tembang sendu kerinduanku. Denting piano yang pelan perlahan, ialah sayup-sayup lantunan sang sayap Penghibur.

Penghibur itu merasuki dalam dirimu. Kau yang lamat-lamat menjauh dari kami, kau mendekat pada-Nya.

Kami dan kau berjauhan perlahan-lahan.

Ah, tegurmu, semua akan bertemu dan berkumpul bersama di panggung-Nya. Sampai-sampai kita bersama lagi di sana.

Lalu, satu-persatu, bunyi melodi gitarmu, yang terselempang di bahu sebelah kanan, tenang merambati pendengaran kami. Apa lalu tuts piano membeku. Di sini kami. Di sana engkau.

(Selamat beristirahat, Mas Erwin. Sampai jumpa lagi.)


Jakarta, 5-6 November 2015