Selasa, 26 Mei 2026

Suka Duka Tawa: Cermin Cinta Keluarga Retak dalam Lawak dan Air Mata

Potongan salah satu adegan Suka Duka Tawa (2026)
Foto salah satu adegan Suka Duka Tawa (2026).

Ini
merupakan debut film panjang Aco Tenriyagelli, sutradara muda lulusan Institut Kesenian Jakarta yang sebelumnya menggarap serial Drama Ratu Drama (2022). Film selama 127 menit ini bukan sekadar lanjutan gaya penceritaannya. Kini dia berkesan lebih ambisius, bekerja lebih keras, juga kian menunjukkan keterampilannya bercerita secara detail dan subtil.

Lawak sebagai Kosacerita

Sebagai film panjang, orientasi kesabaran dan ketelitian Aco teruji dalam menawarkan kosagambar dan kosaaudio yang bermuatan dekat dengan cermin dunia hiburan belakangan, terasa personal, dan hangat. Melangkah jauh dari karya terdahulunya yang berdurasi lebih singkat (film-film pendek dan video musik), Suka Duka Tawa menjajal daya perhatian penonton untuk intens bertahan mengikuti alur kisah di sekitar keluarga kecil yang diguncang keretakan: Indah-Hasan-Tawa.

Yang bikin film ini terasa segar adalah pilihan artistik yang tak biasa: Aco menggunakan seni pertunjukan lawak tunggal (stand up comedy) sebagai bagian metode penceritaan. Bukan sekadar menambahkan jokes untuk menghibur, tapi dia memakai struktur dan teknik komedi sebagai kemasan yang menyatu dengan genre drama keluarga urban Jakarta.

Ditilik lebih dalam, Suka Duka Tawa menyandingkan dua elemen budaya populer stand up comedy dan program grup lawak televisi dalam sejumlah adegan. Secara bersamaan, keduanya dihadirkan sebagai sebuah gesekan yang merangsang sedikit empati penonton atas pertumbuhan seni komedi Tanah Air kiwari.

Tak Sepenuhnya Yatim alias Pasif

Cerita berpusat pada Tawa, anak perempuan satu-satunya yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Ibunya, Indah, jadi single parent yang berjuang sendiri. Selama puluhan tahun, Tawa belajar untuk kuat, tegas, dan sedari remaja bekerja untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan pokok bulanan.

Hidup mereka berdua diwarnai persahabatan dengan teman-teman muda yang tinggal seindekos di Jakarta. Palet warna busana yang dipilih, cahaya latar yang dimainkan, lagu-lagu band pop yang familiar di telinga hadir untuk memperkuat suasana. Paling menarik, seluruh gebalau dan keluh-kesah Tawa tentang ayahnya disajikan melalui teknik pertunjukan stand up: pola rule of three, memainkan respons penonton (riffing), eksplorasi satu tema dari berbagai sudut pandang, hingga sindiran (roasting) untuk mengantar cerita yang pada dasarnya sedih dan rumit. Alhasil, kisah menjadi asyik untuk disimak tapi juga membuat terpukul.

Hingga akhirnya, kisah ini menjadi perjalanan Tawa mencari kembali memori baik semasa kecil saat keluarganya utuh, sebelum ayah pergi.


Titian Arah Dialog dan Cerita Mengejutkan

Film ini berhasil membuat penonton terlibat secara emosional. Suka Duka Tawa bisa membuat kamu tertawa, menangis, atau bahkan menahan napas. Namun bukan emosi yang dipaksa atau manipulatif. Kamu akan merasa iba karena benar-benar melihat tokoh-tokohnya berjuang dengan cara mereka sendiri.

Sebelum membuat kita benar-benar terhubung secara emosional, Aco terlebih dulu membuat penonton menavigasi situasi yang berantakan. Relasi antartokoh yang masing-masing menjalani beban dan luka yang terpampang ataupun tersisip secara subtil dengan menubuh dalam laku para aktor.

Rasa iba akan terasa mencuat. Di sisi lain, kita akan dapat merasa bangga terhadap tokoh-tokohnya, kemudian marah, ngakak, tiba-tiba juga meluncur dalam momen yang membuat kita merasa hampa. Emosi-emosi itu saling bertabrakan dalam satu cerita tentang keluarga yang terus berusaha bertahan hidup dan memperjuangkan passion. Beruntung, paduan akting antarpemeran yang solid membentuk chemistry ciamik di setiap adegan. Akting ayah-ibu-anak yang dimainkan Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, dan Rachel Amanda, berhasil membangun momen-momen emosional yang terasa nyata.

Selain mereka, film ini juga melibatkan deretan aktor dan komika terkenal Tanah Air, seperti Enzy Storia, Abdel Achrian, Gilang Bhaskara, Arif Brata, Bintang Emon, dan Pandji Pragiwaksono. Mereka tak hanya hadir memeriahkan, tapi sungguh berkontribusi pada irama dan mood cerita keseluruhan.

Sebuah adegan rekonsiliasi antara Hasan “Keset (ayah Tawa) dan Indah“Ibu Cantik”di meja makan tersaji dengan hangat dan dibumbui humor. Di tengah percakapan, keduanya tiba-tiba diinterupsi oleh tiga rekan pelawak Keset yang memotong untuk pamit pulang. Dialog intens antara Hasan dan Indah tak lagi memberat, lantas ringan dan meretas kebuntuan bertahun-tahun, hingga berbuah kesalingpengertian.

Tumpang-tindih pengadeganan peristiwa utama dengan noise dari orang-orang di sekitarnya bukanlah kebetulan. Ini adalah pilihan Aco yang disengaja hingga menjelma seperti halnya kehidupan sehari-hari. Dialog jadi terasa autentik, bukan melulu semacam kepatuhan pada naskah yang dipoles rapi, tapi momen yang bisa dikejutkan kapan saja.

Bapak Keset dan Ibu Cantik bersama Tawa kecil.

Setiap Keluarga (Tidak) Bahagia Dengan Cara Masing-masing

Akhirnya, penonton tidak hanya terhenti di iba. Ada perasaan lega” atau pelepasan dari perjalanan yang dialami Tawa, juga atas pergulatan Indah Ibu Cantik dan Hasan Keset. Ini adalah cerita tentang keluarga kecil yang tangguh, yang pernah tidak utuh dalam membagi kebahagiaan, tapi tetap belajar menghadapi ketidakbahagiaan dengan cara mereka sendiri.

Just spill, not spoil:

Buat kamu yang ingin memahami lebih dalam jejak artistik Aco, coba tonton video musik untuk lagu "We" dan "Memori Baik". Di situ kamu akan menemukan benang merah—cara Aco memandang keluarga, memori, dan kehilangan. Semacam cerminan dari kerja panjang Aco merawat modal sosial dengan para aktor dan keterhubungan tema-tema yang diparipurnakan dalam film panjang pertamanya.

Music Video Directed by Aco Tenri


Foto-foto: https://www.instagram.com/sukadukatawafilm/

Kamis, 19 September 2024

Bernadya, Benar Dia?

Sifat baikmu yang orang tahu. Itu karanganku. Sifat aslimu yang hancurkanku. Mereka tak tahu.”

(“Kini Mereka Tahu” - Bernadya)



Tahun 2024 yang sudah hampir habis, dan saya masih merasakan "ke-kurang-an" dari tulisan-tulisan yang terbit di laman Mojok.co. Baik itu kurang berkesan, kurang relevan, kurang menarik, kurang menggelitik, kurang berguna, dan kurang membuat saya bertahan untuk menekuni membaca sebuah tulisan saja hingga selesai di laman tersebut.

Termasuk untuk wacana yang terbit mutakhir ini.

Apakah saya mendengarkan lagu ciptaan Bernadya? Ya.

Apakah saya menyimak dan terkesan dengan lagunya? Ya, karena saya belakangan--pada Rabu siang (18/09/2024) misalnya--menggumamkan dan menyenandungkan sepenggal lirik lagunya selagi bekerja menghadap komputer.

Seberapa berkesan saya atas lagu ciptaannya? "Cukup" artinya sedikit di atas "biasa saja". Saya terpagut dengan timbre vokalnya, lirik bersahaja dan curhat lugas terang--dengan kata lain jujur. Cukup itu saja.

Apakah saya punya ketertarikan lebih mendalam atas lagu-lagunya? Sejauh ini tidak (atau belum).

Maaf, tapi boleh tidak saya menyampaikan pandangan itu? Boleh ya. Ya, sama juga seperti membaca buku. Tidak semua judul buku harus sudah kita (saya, kamu, siapapun) baca. Saya membandingkan buku seperti seorang-demi seorang yang kukenal. Sebuah buku, sebuah cerita, seorang manusia, sepenggal kisah dan rasa. Mereka, satu demi satu, kita kenal dalam perjumpaan di sepanjang hidup kita.

Saya merasa perjumpaan dan perkenalan dengan seorang baru itu ibarat pertemuan yang terasa “sudah diatur” oleh Suatu Kekuatan yang Berada Di Atas; semesta, atau sebutan lain untuk energi semacamnya. Seseorang baru hadir di hadapan dan sekitarku, sejalan dengan pergerakan tubuhku meruang di satu demi satu tempat.

Mereka hadir atau dihadirkan sesuai jejaring yang menghubungkanku dengan mereka: tugasku, tugas mereka, lingkungan sekitarku dan sekitar mereka. Bisa jadi suatu kali pertemuan mengesankan, bisa biasa saja, bisa pula tidak berkesan samasekali, bahkan mungkin membuat kita menggumam: “Ih, dia orangnya ‘enggak banget’!”

Sampai suatu ketika, terkadang jika kita menganggapnya keberuntungan, seseorang tertentu kita nilai baik, berkesan hangat, positif, dan membangkitkan perasaan-perasaan--menyitir puisi Gunawan Maryanto--”yang menyusun sendiri petualangannya”.

Di lain waktu dan cara, bisa juga kesan dan keasyikan kita mengenali dan bergaul dengan sebuah bacaan, tersusup-tutupi dengan isi konten media atau buku lainnya. Hubungan dengan seseorang yang sedang kuakrabi pun dapat tertindih-bagi dengan perhatianku kepada orang-orang lainnya.

Menyoal Bernadya, seingatku sekira beberapa minggu sebelumnya, awal September, salah satu konten di akun Instagram sebuah media nasional mengulas kesan-pesan di balik lagu-lagu Bernadya. Jujur, aku yang kala itu masih jauh lebih tidak familiar dengan Bernadya dan lagu-lagunya, kurang tersentuh (atau merasa “relate”--sebutan populer anak muda kiwari) dengan lagu-lagu Bernadya.

Konten itu seakan dengan garis bawah tebal menekankan lagu Bernadya mewakili kesedih-galauan remaja atau kalangan pemuda kebanyakan. Saya tidak begitu paham, dan karena itulah saya kurang begitu tertarik dengan unggahan konten informasi tersebut.

Lantas, saya jadi semakin bertanya-tanya saat menemukan konten terkait di akun Instagram Mojok.co tentang lirik lagu Bernadya. Barangkali perasaanku tidak berubah, belum bertualang di lipatan-lipatan kalimat dan frasa keputusasaan-patah hati-kesal-kecewa anggitan Bernadya. Sampai hari ini, di saat kata-kataku berujung titik di sini.

Mungkin, Mojok.co dan Bernadya belum cocok dengan selera bacaan dan musik saya. Sebagaimana beberapa buku tidak harus tuntas saya baca hingga akhir, pun tidak semua orang perlu dan harus saya kenal dan mereka mengenali saya. Ya, kan?


18-09-2024, pukul 23.33 Wita.

Jumat, 26 Juli 2024

Puisi Si Piu

Piu namaku.

Orang menyapaku begitu, meski tidak selalu.

Kadang kalau aku dianggap ngawur, aku dipanggil asu.

 

Sudah hampir sewindu aku belum lulus jua.

Sial, kalau aku belum lulus juga sasi depan,

Aku siap pancangkan sesal: Buat apa aku masuk kampus bagus tapi ngehe ini!?

 

Aku bila sedang kesal dan marah, aku bersikeras untuk melarang diriku:

Jangan membanting apapun.

“Mending aku yang dibanting, hingga menjadi seorang bintang suatu masa mendatang.”

Aku bila sedu dan bersusah hati, bersiteguh aku menahannya, sembari menggumam menggeremang.

“Sedih usah sauh, lemparkan asa sejauh dan setinggi yang bisa kau raup atau tempuh.”

 

Syukur atau “syukurin”, aku gagal mengelak untuk bersikap memeluk rezeki.

Terima gajimu, terima kasihmu.

Terima perintah bagimu,

        laksana abdi mengizinkan peluh membasahi jerih tubuh hari-harinya.


Materai janjimu, melangkah teguh meski tertatih.

Jika waktu bisa diputar, bilakah tentu juga nasib nasabmu?

Hanya nazarku, seusai lulus nanti,

        bilakah boleh aku melenggangkan pasrah sudraku?


Piu namaku.

pengkor kakiku satu, kiri

Sebab laka lantas laknat musabab pebalap bajingan tak tahu adat

 

Pejalan kaki, pejalan hidup sepertiku-sepertimu.

Bila masih ada, bajingankah kita semua manusia yang jadi pelaku duka-luka?

        yang melengos melepas tanggung jawab

        yang minus gagah alih-alih menanggungkan beban
        dendam, luka, hingga kini.


Menjadikanku membuat suatu kaul:

        Piu Sutrillanang takkan lagi menggantungkan harap nan parah

        kepada janji ampas pemimpin karbitan

        yang dikatrol oleh antek partai-partai musiman

        yang kosong komitmennya ketimbang penuh poles rayu-mayu dalih lidahnya.

 

Namaku Piu, Piu Sutrillanang

Puisiku suaraku.


 

Foto: Twitter.com/tb_bebasari









Fatufia, Morowali,

Hari Puisi Indonesia, Jumat (26/07/2024),
23.38 Wita.

Sabtu, 11 Mei 2024

Menghitung Hari Ziarah Puisi (Reken Keren)

 Joko Pinurbo, penyair.
Kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962,
wafat di Yogyakarta, 27 April 2024.
(dok.PatjarMerah)



Pada hari kisah menghisak dan memuisi 
ada hari-hari membiru: 
lebam terbentur realitas hidup buruh pejalan,
lembam lamun sesekali di tengah angan rehat panjang. 

Senin yang tanpa upacara bendera, 
lulusan akademi patuhi rumus hukum kelas pekerja:
bangun subuh hari,
terburu-buru santap pagi,
bergegas berdesak dengan ribuan 
sesama penumpang di jalur rezeki
—berebut celah slot-slot keberuntungan. 

Selasa memberat dan keras menguji harap.
Jikapun semua mulus,
adakah asa yang berbuah tanpa bertungkus-lumus?
Ingin lekas akhir pekan,
jika bukan toleh tanggal merah 
atau kode honor cair. 

Di Rabu yang abu, 
dahi-dahi menjemput jemari imam nan lembut dan tegas.
Di sesela temurun gerak lentik ujung jarinya,
selisip pesan menusuk pelipis: 
persiapan masa nan amat akhir.

Kamis dada bidang mencerap damai dupa hangat
sungut peluh tubuh-Nya koyak
lila terpecah-pecah dan berserah

Inilah tubuhku untuk membalut tubuh telanjang bulatmu, 
bilas mencong langkah kakimu. 

Aku terharu, tersudut sendu ngilu kuku kelingking terkulai.

Di Jumat nan agung, tungkai Tuhan dicium, 
dipuja-puja tanpa kata.
Sedang penyair merentang tubuh,
berbaring lemah tapi tak nyenyak
selagi hendak dipulas berkat minyak
—penyuci dari dosa,
    pepulih luka
    pengantar jalan baka
 
Sabtu pujangga pulang 
tanggalkan tubuh rangkanya 
menenangkan jiwanya 
memisah, 
memindah diri dari duri duniawi

Aksara merubung berbaris menundukkan sirah,
mengeja petilan syiar syair munsyi.
“Pergilah dengan damai kalau kau tak tenteram lagi tinggal di aku.”

Minggu, guguran alfabet tergugah-hendak merekah
merekati yang kemarin dengan hari ini
esok jadi yang dinanti-nanti
—Doaku, Kakanda, In paradisum deducant te angeli.

Kemungkinan adalah ketakpastian yang menimba jawaban
Sebelum awal mengetuk lagi ujung pekanmu
yang berdecak lalu pekat pirau dipetik senja. 
 
(Atas nama secangkir kopi pagi mendingin
tertinggal ‘tuk gegas berangkat
Juga kelip pelik cahya kunang-kunang merapat)

Morowali, Minggu–Kamis, 28 April–2 Mei 2024.

Baris puisi terakhir Joko Pinurbo. (Twitter.com/endang_yl)


Senin, 15 April 2024

Dia Datang Lagi Pagi Ini (Suatu Pagi yang Membuncah)


 

Sekitar jelang terbangun dari tidur malam, Senin, 1 Januari 2024, saya memimpikan Mas Cindhil*. Begitu rupa dia hadir di sisi kiri belakang agak menyerong dari posisi duduk saya. Saya kala itu—yang kurang-lebih hanya sejauh ingatan saya dari peristiwa mimpi—sedang membaca koran. Bukan yang digital, melainkan cetak-fisik berukuran jumbo. 

Nyaris seolah tak terucap satu kata pun di antara kami. Namun, gerak-geriknya mengindikasikan sebuah kontak yang mengawasi perilakuku. Tanpa berceloteh, dia sesekali mengintip ke arahku, sejurus dengan gerak pandanganku yang membuntuti setiap halaman koran, kata demi kata yang tercetak di tiap lembaran. 

Dia, yang seperti pemuda tetapi berjiwa pendidik, menjadi sosok yang dengan asih hadir hendak selalu mengasuh. Dalam posisi santai saja, perhatiannya masih terfokus padaku. Memerhatikanku dalam setiap gelar waktu yang bergulir. Walau ini dalam mimpi, pertemuan kali ini dapat terbayangkan berlangsung cukup lama—seperti sebuah adegan film-film pendek bertema persahabatan. 

Maka dengan sepenggal rasa yang agak terganggu, koran kutanggalkan di meja. Posisi dudukku berubah, pinggangku kuputar ke kiri. Aku melontarkan tanya padanya. Semacam pertanyaan tertutup atau sekadar konfirmasi, tapi justru meretas suasana kebuntuan dan keheningan di antara kami. 

Tak jelas apa yang kami perbincangkan. Menyisakan berkas kesan lekat di benak. Selekas itu pula kontak kami, terputus di sela menit pergantian tahun yang menggugah di suatu pagi hari yang membuncah.

Kami di dua dimensi yang tak lagi sama—kini mensyukuri tiap kali perjumpaan tak terencana ini terjadi.

Dengarkan puisi Gunawan Maryanto

 

 *) Cindhil, sapaan akrab Gunawan Maryanto (1976–2021) adalah aktor dan sastrawan Indonesia. Ditulis 2 Januari 2024
07.56 Wita.

Sabtu, 13 April 2024

ALIENASI SI ALINEA



(Ogoh-Ogoh, Oh, Go! Oh, Go!) 


Dan tibalah akhir membahagiakan ini.
Senang sekali aku melihat mereka membakarku hidup-hidup
dengan sepenuh hati dan mati-matian.

Setelah diarak keliling sepanjang jalan-jalan kota ini,
Aku mengembuskan napas penghabisan.
Mereka menggumamkan doa bagiku,
 sambil memanjatkan kidung kudus
 sedang asap dupa meliuk berembus

Maka aku rela hati dengan propaganda ini-itu. 

Setiap sehari sebelum orang-orang masuk menuju alam malam sunyi-senyap yang bukan 
Kelahiran Juruselamat, mereka menggambar diriku.
Menghiasiku beragam warna dan rupa:
jadi boneka besar, seram, membuas, mengancam,
membius ke dalam setiap tatapan. 

Kemegahanku ialah sebuah lambang cerminan rasa takut mereka sendiri:
        orang-orang di setiap banjar dan kampung-kampung itu,
        tersuruk dalam hening-bening dosa-dosa dan kejahatan mereka sendiri.
        Diri mereka yang kecil, tapi mekar membesar dalam kungkungan dunia yang jahat,
        dunia yang pepat dengan kebaikan bersembunyi dan dilipat.


Oh, maka aku setuju menjadi hiburan di atas cara mereka menertawai diri mereka sendiri!
Hanya pemerintah di negeri Gemah Ripah sukses lakukan ini.
Kementerian Rekreasi dan Jalan-Jalan menjajakan aku dan segenap riasan-polesan
yang melekatiku: pekik kecak, kelonteng lonceng, dengung gong, dan klinting berdenting-denting.
 
Oh, sekali lagi, ini bukan malam kudus.
Duniaku memang dunia gemerlap,
        mendatangkan devisa bagi negara
        menggairahkan gerak roda cuan warga.

Go, go international! Aku dan Kotaku melambung tersohor di mata mancanegara.
Go, go! Dan jadilah provinsiku superdestinasi wisata.

Maka kini orang-orang sudah terang mengenal asal-usulku:
        Dari mana aku berasal, di sebelah mana Indonesia eksistensiku mengada
        Para insan global tahu akulah Bali, aku jualah Indonesia,
        berkat tuan petinggi dan pembantu-pembantunya.

Meskipun kini kota ini bukan lagi dikuasai kawanan dan keturunanku asli, 
dan aku terasing di negeri sumpek dengan tumplek-blek orang-orang bule yang bukan Buleleng. 

(Selamat bertapa brata dan beralienasi—
untuk Hari Raya Nyepi;
direvisi 13 April 2024).

(Gambar dari aplikasi Copilot/AI)


Senin, 08 April 2024

Bulir Bilur Tarif Iftar



            : perjamuan malam terakhir Ramadan

Sebuah perjamuan selepas senja
Sepiring ikan goreng, bihun dengan irisan cabai,
sebaskom es buah segar penyembuh dahaga
setelah seharian menahannya.

Sebuah sajian peringatan menjelang ajal.
Baru sisihkan yang lama,
barisan doa dan sembah merekatkannya.
Piala darah, hosti tubuh jelmaan diri nan utuh 
sebelum bergantung di palang puncak bukit derita.

Sesudah subuh hingga sebelum magrib,
secerah amarah mentari merendah hangatkan hati.
Menjadi saling berbagi:
        takjil senja murah-harum 'tuk semua.

Sesudah semua pelajaran, perjumpaan, perutusan,
besok disobek satu per satu khianat. 
Tuduhan tak berdasar apa yang dilanggar, 
telah digariskan bahkan tak dapat ditawar.
Ingin mengelak, malah Dia tertolak hingga ditombak. 

Di belakang, seekor ikan tertusuk pisau-pisau pembersih sisik 
agar kepahitan hati menyimpan dengki 
kelak bebas selaras lagu permaafan di muka andrawina.

Tapi adakah ampunan bagi kami kaum berdosa?
Beralih dari penenggak air jahat, kau memeluk rahmat. 

Tarif iftar malam terakhir ini
Bulir bilur pesta penapis: 
        Adakah kau tertunjuk dan selamat?

Silih oleh Putra Manusia menelan tak berbilang sengsara: 
            ludah dari lancungmu, 
            cambuk oleh serakahmu,
            beban karena culasmu. 

Dalam pekat pahit anyir cawan kehendak-Nya,
reguk bak hari fitri di balik bilik bulan baik. 

—Selamat mengingat hari puasa, 
 dan berhijrah menuju kemenangan 
 
(1 Syawal 1445 Hijriah, 10 April 2024)