![]() |
| Foto salah satu adegan Suka Duka Tawa (2026). |
Ini merupakan debut film panjang Aco Tenriyagelli, sutradara muda lulusan Institut Kesenian Jakarta yang sebelumnya menggarap serial Drama Ratu Drama (2022). Film selama 127 menit ini bukan sekadar lanjutan gaya penceritaannya. Kini dia berkesan lebih ambisius, bekerja lebih keras, juga kian menunjukkan keterampilannya bercerita secara detail dan subtil.
Lawak sebagai Kosacerita
Sebagai film panjang, orientasi kesabaran dan ketelitian Aco teruji dalam menawarkan kosagambar dan kosaaudio yang bermuatan dekat dengan cermin dunia hiburan belakangan, terasa personal, dan hangat. Melangkah jauh dari karya terdahulunya yang berdurasi lebih singkat (film-film pendek dan video musik), Suka Duka Tawa menjajal daya perhatian penonton untuk intens bertahan mengikuti alur kisah di sekitar keluarga kecil yang diguncang keretakan: Indah-Hasan-Tawa.
Yang bikin film ini terasa segar adalah pilihan artistik yang tak biasa: Aco menggunakan seni pertunjukan lawak tunggal (stand up comedy) sebagai bagian metode penceritaan. Bukan sekadar menambahkan jokes untuk menghibur, tapi dia memakai struktur dan teknik komedi sebagai kemasan yang menyatu dengan genre drama keluarga urban Jakarta.
Ditilik lebih dalam, Suka Duka Tawa menyandingkan dua elemen budaya populer stand up comedy dan program grup lawak televisi dalam sejumlah adegan. Secara bersamaan, keduanya dihadirkan sebagai sebuah gesekan yang merangsang sedikit empati penonton atas pertumbuhan seni komedi Tanah Air kiwari.
Tak Sepenuhnya Yatim alias Pasif
Cerita berpusat pada Tawa, anak perempuan satu-satunya yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Ibunya, Indah, jadi single parent yang berjuang sendiri. Selama puluhan tahun, Tawa belajar untuk kuat, tegas, dan sedari remaja bekerja untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan pokok bulanan.
Hidup mereka berdua diwarnai persahabatan dengan teman-teman muda yang tinggal seindekos di Jakarta. Palet warna busana yang dipilih, cahaya latar yang dimainkan, lagu-lagu band pop yang familiar di telinga hadir untuk memperkuat suasana. Paling menarik, seluruh gebalau dan keluh-kesah Tawa tentang ayahnya disajikan melalui teknik pertunjukan stand up: pola rule of three, memainkan respons penonton (riffing), eksplorasi satu tema dari berbagai sudut pandang, hingga sindiran (roasting) untuk mengantar cerita yang pada dasarnya sedih dan rumit. Alhasil, kisah menjadi asyik untuk disimak tapi juga membuat terpukul.
Hingga akhirnya, kisah ini menjadi perjalanan Tawa mencari kembali memori baik semasa kecil saat keluarganya utuh, sebelum ayah pergi.
Titian Arah Dialog dan Cerita Mengejutkan
Film ini berhasil membuat penonton terlibat secara emosional. Suka Duka Tawa bisa membuat kamu tertawa, menangis, atau bahkan menahan napas. Namun bukan emosi yang dipaksa atau manipulatif. Kamu akan merasa iba karena benar-benar melihat tokoh-tokohnya berjuang dengan cara mereka sendiri.
Sebelum membuat kita benar-benar terhubung secara emosional, Aco terlebih dulu membuat penonton menavigasi situasi yang berantakan. Relasi antartokoh yang masing-masing menjalani beban dan luka yang terpampang ataupun tersisip secara subtil dengan menubuh dalam laku para aktor.
Rasa iba akan terasa mencuat. Di sisi lain, kita akan dapat merasa bangga terhadap tokoh-tokohnya, kemudian marah, ngakak, tiba-tiba juga meluncur dalam momen yang membuat kita merasa hampa. Emosi-emosi itu saling bertabrakan dalam satu cerita tentang keluarga yang terus berusaha bertahan hidup dan memperjuangkan passion. Beruntung, paduan akting antarpemeran yang solid membentuk chemistry ciamik di setiap adegan. Akting ayah-ibu-anak yang dimainkan Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, dan Rachel Amanda, berhasil membangun momen-momen emosional yang terasa nyata.
Selain mereka, film ini juga melibatkan deretan aktor dan komika terkenal Tanah Air, seperti Enzy Storia, Abdel Achrian, Gilang Bhaskara, Arif Brata, Bintang Emon, dan Pandji Pragiwaksono. Mereka tak hanya hadir memeriahkan, tapi sungguh berkontribusi pada irama dan mood cerita keseluruhan.
Sebuah adegan rekonsiliasi antara Hasan “Keset” (ayah Tawa) dan Indah“Ibu Cantik”di meja makan tersaji dengan hangat dan dibumbui humor. Di tengah percakapan, keduanya tiba-tiba diinterupsi oleh tiga rekan pelawak Keset yang memotong untuk pamit pulang. Dialog intens antara Hasan dan Indah tak lagi memberat, lantas ringan dan meretas kebuntuan bertahun-tahun, hingga berbuah kesalingpengertian.
Tumpang-tindih pengadeganan peristiwa utama dengan noise dari orang-orang di sekitarnya bukanlah kebetulan. Ini adalah pilihan Aco yang disengaja hingga menjelma seperti halnya kehidupan sehari-hari. Dialog jadi terasa autentik, bukan melulu semacam kepatuhan pada naskah yang dipoles rapi, tapi momen yang bisa dikejutkan kapan saja.
![]() |
| Bapak Keset dan Ibu Cantik bersama Tawa kecil. |
Setiap Keluarga (Tidak) Bahagia Dengan Cara Masing-masing
Akhirnya, penonton tidak hanya terhenti di iba. Ada perasaan “lega” atau pelepasan dari perjalanan yang dialami Tawa, juga atas pergulatan Indah “Ibu Cantik” dan Hasan “Keset. Ini adalah cerita tentang keluarga kecil yang tangguh, yang pernah tidak utuh dalam membagi kebahagiaan, tapi tetap belajar menghadapi ketidakbahagiaan dengan cara mereka sendiri.
Just spill, not spoil:
Buat kamu yang ingin memahami lebih dalam jejak artistik Aco, coba tonton video musik untuk lagu "We" dan "Memori Baik". Di situ kamu akan menemukan benang merah—cara Aco memandang keluarga, memori, dan kehilangan. Semacam cerminan dari kerja panjang Aco merawat modal sosial dengan para aktor dan keterhubungan tema-tema yang diparipurnakan dalam film panjang pertamanya.
Music Video Directed by Aco Tenri
| Foto-foto: https://www.instagram.com/sukadukatawafilm/ |







