Minggu, 17 Maret 2024

Datar, Darat

 

Twenty Years Rights/A24 FILMS


Dua insan tak berinsang berenang-renang 
    di gelombang kesunyian 
Yang satu feminin, satunya maskulin 
    bertumbuh dalam sisipan harapan 
‘Kan jadi tuan putri 
hidup bersama-nya 

Dua puluh tahunan terpisah 
jarak-waktu, sunya-sunyi, impi-ilmu 
pun patuhi misi negara

Berdua seru saling saing semasa sekolah
Wanita cari jangkau pamor negeri kiblat sinema dunia
Lelaki pemalu (?) memanjat tebing kuliah 

Lemah sinyal 
lembam kontak 
putus tanpa status 
terhubung benang merah takdir—tapi apatah takdir? 

Menegang di atas tali ketidakpastian, 
pepat kemungkinan 
Tapi tak sempat atau tak niat mengeksekusi 

Mendatar, 
hingga henti di depan rolling door biru 
geregetan
Mendarat ‘tuk sampai lagi
bertukar dengan lepas
gemas!


18 Maret 2024,
oleh-oleh menonton
Past Lives (2023)

Jon Pack/Twenty Years Rights/A24 FILMS


    
Jin Young Kim/Twenty Years Rights/A24 FILMS

Jin Young Kim/Twenty Years Rights/A24 FILMS

Minggu, 11 Februari 2024

Puisi Anagram Pemilu Presiden 2024

Menyambut hari pemungutan suara pemilihan umum 2024, jemariku gatal, kepalaku pening, dan perasaanku gundah. Kekhawatiran besar pada kebrutalan politik yang disusun secara solid dan tertata rapi oleh aparatur pemerintahan Presiden Jokowi berbasis data intel yang diakuinya sudah dia kantongi berwujud praktik keculasan.

Yang ‘rungkad’ dalam keprihatinanku itu telah kurangkum menjadi cerminan lima puisi anagram bertema politik menyambut pemilu 2024. Seperti tolerir terhadap kampanye oleh Jokowi sebagai aparatur negara, boleh, juga lho, kita menjagokan sesiapa.

Selamat mencoblos! Kamu masih merahasiakan pilihanmu? Silakan saja. 



Pilih Pilah Ilah-Ilah

:puisi yang ‘trust issue’

Hari ini Minggu
Masih sepatah Aku yang akan percaya
sebelum menjadi Bapa 
bagi Kami orang-orang yang kurang percaya.

Selalu ada ampun, katanya 
dan itu lebih baik dibandingkan terlalu percaya kepada manusia—
diri sendiri juga sesiapa jagoan dan idola

Lantas jika pada-Mu kami menggantungkan hati
Haruskah padamu negeri 
jiwa raga kami
bila pemimpin kami 
sodorkan pilihan
‘tuk sebaiknya ‘kan juga 
kami tunjuk dan tusuk

Tak bolehkah kami tak percaya kepadanya?
Lalu, siapakah orang terbaik 
dari orang-orang yang kurang kami yakini 
tempat pundak beban 
kami sandarkan
selekang ruang untuk kami 
mengakui dan mengimani.


Jakarta, 4 Februari 2024, 23.06 Wita  


Pucuk, Cukup! (1)

(untuk JK WDD)

Mr. President, sudahkah Anda sarapan?
atau sekaligus saja makan siang nanti?
Oh, hmm… berjanji makan malamkah Anda 
dengan seorang petinggi partai?

Mr. President, pernahkah Anda sekali saja ‘kan rasakan yang sama seperti
kami:
yang belum menikmati makan pagi
sedang harus buru-buru berangkat mengemis-mengais rezeki
yang khawatir besok mau makan apa lagi
sedangkan ini malam terakhir untuk santap nasi sedang; 
sedang porsinya, sedang pedasnya, sedang ayamnya
—lebih banyak cemasnya, lebih-lebih jeri letihnya.

Bagi kami, kemarin adalah kecemasan yang cukup kami tanggalkan di hari ini.
Hari esok adalah ketakutan lain yang kami tuai dari taburan harap hari ini.
Semakin kami menaruh harap, semakin palsu bah’gia kami
—menjadi bahaya, menjadi tanda-tanda usai usia.

Sedang Anda?

Sibuk makan siang bersama sahabat kabinet dan koalisi Anda; 
mengatur rencana-rencana papan atas konstelasi catur politik masa depan
mengulur energi kuasa agar mulus jatuh menurun ke lingkar famili
mengukur citra level gagal pemerintah agar 
di mata kawan politik tampak lebih sukses,
di telinga calon investor dan negara asing berkesan lebih berdaya saing, 
di hidung wartawan dan hartawan pengendus amplop berlebih
—'tuk jadi cuan ditabung, kala pundi-pundi tambahan susah ditambang


Pucuk, Cukup! (2)


Mr. President, 
kami lelah menelan kata “cukup” 
meski sungguh ingin jerit: Sedikit! Kurang amat! 
kami lelah berlambat-lambat tahan lapar-haus
walau sesungguhnya ingin lekas raih nikmat

Tidakkah Anda kenal kata “cukup”, Mr. President?
Dengan dua kali periode pimpin,
Dengan anak-menantumu turut duduki jabatan,
Dengan keluar dari pengaruh partai ‘tuk putuskan langkah taktis
Tik-tak nyaris tak terdengar penolakan
sebab semua fraksi semau dengan tempo angguk matamu, 
teken pena di jemarimu


Pucuk, Cukup! (3)

Mr. President,
Anakmu bukanlah anakmu, meski namanya sama dengan penyair Libanon itu
Anakmu memang bukanlah anakmu, mereka hanyalah anak panah yang melesat 
dengan impiannya masing-masing
Bukan gasing-gasing yang gerak langkah jejaknya
Anda tentukan arah perputarannya

Misteeer…,
Jangan keblinger, bila membiarkan anak-anakmu melenggang lurus 
Pancangkan niat tegak lurus tahta penerus 

Misteeer, 
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, 
seandainya Anda ingat bahwa Anda,
tetangga Anda,
saya, 
tetangga saya
pun seorang anak
yang berumah di alam nan luas
juga gelombang biru jernih laut lepas, 
beratap langit-langit jumantara bebas,
berubin tanah ripah
berbutir pasir putih keperakan

Mr. President,
Saya dan Anda adalah penikmat momen kebebasan:
sembilan belas sembilan puluh delapan
sejak itu: sekepal nasi sudah tak lagi barang rebutan
menjadilah santapan harian

Namun kini mengapakah cerminan retak itu Anda sorongkan ke muka kami
Pada sosok putra mudamu yang baru seumur jagung dalam perpolitikan

Terlalu dini berpasangan di ranah pesta demokrasi 
tanpa cukup bekal pengalaman
alih-alih corengkan muka teladan
dalam semangat aji mumpung dan kultur instan

Haruskah muda sama dengan cepat?
Ataukah putramu jelma anak panah
yang terpaksa melesat
tanpa izin dan pertimbangan akal lebih sehat
mengiyakan tawaran partai yang mengikat
kepentingan elektoral sesaat 2024


7 Januari 2024, 01.54 Wita 


Emban Embun

teruntuk: Ganjar Pranowo


Sudah teruji, juga terbukti.
Berhasil semenkan ladang tanah air kami.

Gagalkan misi memasyarakatkan olahraga,
tak jadi sembunyikan benci
  demi lebih membunyikan konstitusi:
menghapus penjajahan di atas muka bumi

Mengundang kami pemilih baru-belia
Sambut fajar pagi jadi anyar
tak sekadar ingar-bingar
coblos contreng yang mentereng 

Dalam tetes-tetes dingin 
di daun jendela partai
di balik air muka
politik negeri setengah dewata

Kukira kau embun,
kusimak ingin kusibak
tapi nyata uban menutup ubun-ubun

Semoga itu tanda kematangan, kemenangan
meski kau tahu kemenangan terbesar semata milik Tuhan
dan suara-suara-Nya dari suara-suara calon rakyatmu

Jakarta, 6 Desember 2023




Minggu, 26 Maret 2023

Puisi-puisi Anagram Minggu

Bisakah aku menjadi tuhan atas hariku?
Hari ini Minggu, sedang Senin tak bisa sabar menunggu.


Selamat membaca dan selamat berhari Minggu!


(1)

Penyair, Penyiar

 

Hari ini Minggu.

Dan sudah kulihat hiruk-pikuk di tubuh Seninmu:

 

            Tentang mata hari yang ingin terbangun di pagi sekali

            Mengintip terikkan matamu yang terpejam

            Gopoh yang ingin membalikkan waktu agar tak kembali

            seperti Senin lalu-lalu

 

Saat datang cepat-cepat, tapi masih tetap terlambat

Kehendak yang membelot di saat rapat

Bagaimana gelisah hasrat sarapanmu mana sempat

 

“Hai, hari Minggu…”

Cobalah usapkan salam itu di atas kelopak matamu.

Dengan perlahan, melembut

Usahlah melirik kanan-kiri hari lain.

Ini hari kau yang punya

 

Hari ini Minggu, Su.

 

Meski kau tahu, kata orang, ini harinya Tuhan

Kau bisa bilang

“Aku tuhannya hari, sedang

nyata harinya Tuhan hanyalah satu kali.”

 

Meruya, Jakarta Barat, 26/3/2023

-RR-

#puisianagram #24




(2)

Raja Ajar

: para pelajar, terutama di NTT

 

Hari ini Minggu, Su.

Tapi seganmu sudah offside mendahului ritus upacara Seninmu.

 

Merah dan putih yang berbanding posisi super dan infer.

Padahal bila mencampur dan menyatu ‘kan menjambu ceria.

 

Instruksi pemimpin upacara yang itu-itu saja

Sedang arahan kepala pembina

jadi lantunan menyejukkan rasa kantuk

atau jangan-jangan metode pengalih hati

yang suntuk-ingin merutuk

 

Kau dan teman-temanmu bergunjing

                tentang siapa di antara para guru  

                paling pintar sekaligus murah hati memberi biji,

                meskipun tidak seberapa jelita dan wibawa.

 

Kutahu Su, kau tak enak bila dapat dispensasi lagi, lagi dan lagi

untuk kembali ikut lomba karateka

 

Kutahu Su, memar di lenganmu

Jejak jerih usahamu yang akan terasa sia-sia

dalam bayangan guru sains dan matematika

serta di hadapan bakul cilor dan cilok yang menantimu

di depan

pintu gerbang

kemerdekaan  

dari

sebuah

lembaga

tempat kita

belajar menata Sang Kata-kata.

            Yang semestinya:

            dengan bebas, merdeka, berdaulat,

            adil sejak dalam pikiran,

            makmur bila nyaman, aman, dan menghibur perasaan

            --tentu ‘kan menghasilkan cuan.

 

Titip salam salim, Su,

untuk guru-guru di sekolahmu yang lucu-lucu

            semoga makin peka mendengarkan curhatku
            setia untuk bersiap digugu dan ditiru.

 

Meruya, Jakarta Barat,

26/3/2023

-RR-

#puisianagram #25

(Anna Kendrick dan Jeremy Jordan usai bernyanyi
“Goodbye Until Tomorrow”)




(3)

Tebas Sebat

 

Hari ini, Minggu, Su

Habiskan rokokmu,

tandaskan kopimu

 

Mari, kembali bersenangkan hati

Menyiul-usilkan Kata

Memuaskan rasa

 

Sebelum bertemu di Sabtu

bilamana mengerjakan kata,

‘tuk merenda makna

dan menjelmakan mantra untuk orang-orang

yang gebalau atau gundah gulana.

 

Mereka memanjatkannya

pelan-pelan, merambat dari kanan ke kiri,

Tak hendak berlari,

alih-alih melamban,

sampai ke tujuan:

        melipur jiwa

        menitikkan api renjana


Meruya, Jakarta Barat,

26/3/2023

-RR-

#puisianagram #26

Rabu, 22 Maret 2023

Hawatir? Tarawih!

Kata merasa cemas hari ini akan bertemu dengan siapa.

Apakah Nasib atau Nasab yang menentukan pilihan daur hidup baginya selanjutnya?

Situasi mana yang akan dia jumpai: Bencanakah atau Beruntung?

 

Kata tak pernah mengenal libur.

Ia selalu dipermainkan dalam raung ruang dan masa.

Dilabeli, dipilah-pisah, dipilih-sisih, dipermainkan, dan dipermanfaatkan.

Maka tak pelak, ia juga dimanipulasi, dibelokkan, dan disembunyikan alih-alih dibunyikan.

 

"Kureng," kata seorang pemuda penggunanya, 

suatu kali, mencandai temannya yang menjajal blus polkadot. 

Tak lupa emotikon senyum cengir terukir di wajahnya.


"Membagongkan!" seorang remaja lain menyeru lirih lewat teks di gawai.

Kata terpana: dirinya seperti lahir kembali dan reinkarnasi 

dari tokoh punakawan setengah jenaka dan setengah rupawan itu.

 

Salam ramah "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"

dari seorang petinggi malah merisaukan dan menimbulkan amarah

setelah diikuti pengumuman buruk lembaga pemerintah.

 

Kata pasrah, mulai lelah. Sekali ini ia ingin mengambil jarak--menepi dan rehat.  

Melihat Kata bekerja tak ingat waktu, si penyair menggambar saja.

Menonaktifkan Kata agar sedia bermati raga sejenak sekira untuk sebulan.


Lihat, diam-diam, dalam baringan lemas, Kata masih berpikir keras.

Pandangannya awas, takut kalau-kalau ketinggalan kabar terbaru.


”Ssst… Jangan berisik,” penyair berbisik pelan.

“Selamat beristirahat, Kata.”

(Mariana)

 
-R.R-

22-23/03/2023, lewat tengah malam.

#puisianagram #22


Tesalonika, Yunani by 𝘎𝘦𝘰𝘳𝘨𝘦 𝘋𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬𝘪𝘴 (Twitter/@Futura_Noir)



Selasa, 31 Januari 2023

Intip Tips Melepas Karakter Tokoh Seusai Pertunjukan

Adegan wangsa merah dalam lakon teater musikal Violet: Warna yang Berbeda,
27-29 Januari 2023./Dok. Teater Svatuhari

Seusai tirai panggung menutup, lalu penonton bertepuk tangan dan bangkit dari bangkunya untuk membalikkan langkah, para pemeran telah menanggalkan pakaiannya. Riasannya. Karakter yang dimainkan pun perlahan melepas dari kesadaran tubuh sebagai manusia senyatanya. Perlahan, keadaan dan kesadaran pemeran kembali menjadi diri sendiri dengan identitasnya masing-masing yang bukan karakter atau tokoh cerita. 

Namun, sebagai aktor pemeran, bagaimanakah cara baik untuk melepas karakter yang sudah dipentaskan di atas panggung agar tak terbawa dalam kehidupan nyata? Berikut langkah-langkah pelepasan karakter yang dihimpun dari ilmu guru akting dan pengalaman saya.


1) Mula-mula, selalu sadarilah untuk mengatur helaan napas dengan teratur. Dalam kondisi tenang, tariklah napas perlahan, tahan sebentar, embuskan pelan-pelan. Sebagai situasi bersyarat, letakkanlah di hadapan kita kostum dan properti yang kita kenakan saat memainkan karakter.

Sampaikan terima kasih kepada nama karakter (sebutkan namanya) yang telah kita mainkan sambil menatap, memegang, dan mengusap properti dan kostum karakter yang telah kita kenakan. Jika kau ingin memeluknya, peluklah. Ucapkan terima kasih atas emosi, pikiran, energi, dan kisah hidup si karakter yang telah kita hidupi di atas panggung.


2) Sempatkan pula hening sejenak. Biarkan karakter itu berbicara kepada kita--bila ia ingin mengatakan sesuatu kepada kita.

 

3) Terakhir, sampaikan maaf kepada nama karakter itu untuk kekeliruan atau kelalaian selama proses penghidupan karakter di atas panggung. Sampaikan terima kasih sekali lagi kepadanya, dan… “sampai jumpa di lain waktu”.

 

4) Setelah melepas karakter, maka kita kembali pada setelan diri sebagai “aku-aktor” dan “aku-diri”. Sebagai misal, aku seorang anak lelaki, dengan kecenderungan highly sensitive person, suka camilan keju dan sop iga, Sobat Padi-Romanisti-Manchunian, penulis, punya cicilan KPR, dan sebagainya.

Sebagai “aku-diri”, kembalilah untuk melakukan hal-hal paling kamu sukai yang 180 derajat berbeda dari kebiasaan “aku-karakter”: makanan kesukaanmu, pakaian atau outwear kesayanganmu, gaya rambut favoritmu (bila perlu jajal style terbaru yang cocok denganmu), hingga mengerjakan tanggung jawab keseharianmu. Jika kau memiliki keluarga dan orang terdekat yang dapat segera kaujumpai, hampirilah dan peluklah mereka--orangtua, pasangan, saudara, keponakan, dan anak-anakmu.

 

5) Sebagai “aku-aktor”, sebaiknya latihan sederhana keaktoran kudu dilanjutkan. Olahraga rutin sepekan tiga kali, training ketubuhan, mengakses informasi tentang seni peran dan pertunjukan…, intinya meminjam lirik lagu band Perunggu, “Terus berenang dan lanjutlah mendaki.” Mengasah dan mengawetkan kecakapan seni akting, bahkan meningkatkannya agar selalu siap-sedia jika sewaktu-waktu diperlukan untuk produksi karya pemeranan.

 

6) Jika ada kebiasaan baru dan positif sepanjang proses training dan rehearsal dalam produksi yang baru usai, tak salah untuk terus dilakoni. Khususnya bila perilaku itu membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik: secara kognitif, afektif, dan motorik. Begitu pun bila ada kebiasaan negatif yang mulai berkurang karena melakukan kebiasaan baru selama proses produksi, sisihkanlah gaya hidup buruk itu. Alihkan minat dan perhatian dengan menjalani perilaku dan pola pikir baru dan lebih bermanfaat. Namun, sungguhpun teater malah memberimu dampak buruk, tidak salah jika kau meninggalkannya. Kembalilah ke “jalan yang benar”. Sebelum kau menyesal. :)

Temui lagi komunitas positif, tetap berhati-hati dengan pengaruh negatif. Terimalah ia sebagai bagian dari warna kehidupan tetapi jangan diadopsi. Sebab “pergaulan buruk merusak kebiasaan baik”.

Beberapa pokok pelepasan karakter itu dapat diterapkan dan dikembang-sesuaikan secara pribadi. Terima kasih dan sampai jumpa di pertunjukan berikutnya. Salam olahraga, salam budaya!

Sabtu, 31 Desember 2022

Kehilangan

Hariku tidak bersamanya lagi.

Dia telah pergi…, ataukah aku yang meninggalkannya.

Tak sengaja atau tak sadar meninggalkannya.

 

Pastinya, aku menanggalkannya. Lalu lalai, dan tak lagi menggamitnya.

Segera meninggalkannya, tanpa benar-benar mengawasi pandanganku darinya.

Lagi, aku seakan harus mengejar waktu, atau sesuatu, tapi seperti tanpa beban menanggalkan yang kumiliki, yang kubawa dan kukenakan selama perjalanan.

 

Mereka yang pergi, dan tinggal aku yang merasa kehilangan:

Sepasang sandal.

Topi.

Kacamata.

Tumbler atawa botol minum.

Sebuah buku puisi Mas Kiki.

Setumpuk buku terbitan organisasi kampus.

Mungkin akan ada yang lain… juga kekasih.

Aku ingin berhenti. Please, stop!

 

Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, kataku suatu kali kepada mantan kekasih.

 

Akhirnya sampai aku menuliskan ini, aku belum bebas dari penyakit lupa dan komplikasinya.

Hingga aku berkesimpulan, bahwa:

Hidup hanya menunda kehilangan…

atau menunggumu hilang ingatan

dan menyadari betapa ruginya lalai, lupa,

dan lain-lain polah laku atas nama “ketinggalan”.

 

Kehilangan ini membuatku tak lagi bersamanya. Kehilangan ini juga menegurku pada pepatah-petitih yang kucatat beberapa tahun silam.

“Jangan pernah menanggalkan sesuatu dengan sengaja untuk waktu lama tanpa menitipkannya

pada seseorang yang kaupercaya.”

 

Seperti pedang-pedangan yang dititipkan Kukuh, teman setimku, padaku.

Sembari memberikannya padaku untuk kubawa pulang, dia berpesan, “Gua percayain ini untuk lu bawa ya.”

 

Oke, kataku. Sedang sejurus kemudian aku kerepotan karena harus membawa dua properti:

pengganti pedang-pedangan dari rotan milikku, dan pedang-pedangan kayu dari Kukuh.

Berangkat latihan teater aku membawa satu pedang, saat pulang membawa dua.

 

Di Karet, di Karet, tempat aku latihan teater sekarang.

Dari Karet, dari Karet. Aku membawa dua pedang.

 

Nah, sesampai di rumah di Pasar Minggu, aku baru mendapat kabar:

Tas wadah pakaianku ketinggalan. Aku biasa membawa dua tas: satu tas punggung, satu tas cangklong.

 

Aku masih belum awas dengan apa-apa yang kupunya.

Ataukah aku masih meleng dengan pikiranku.

Aku seperti butuh tenaga pengingat ‘reminder’ buat mengingatkan:

Segala yang kita punya memang tidak abadi, tetapi selama masih di dunia marilah sedikit lebih menghargai.


Selamat Tahun Baru 2023

5 November 2022, 31 Desember 2022
/RR/




Minggu, 06 November 2022

Panggung 'Sindirwara', Buku Terbaruku Untukmu

“Jika drama hanya hiburan dan menafikan tuntunan, barangkali ia kehilangan jati dirinya. Ia tidak merambah terra incognita, yakni ruang-ruang yang tak terjamah.”




Judul:     Panggung ‘Sindirwara’: Catatan Tentang Film dan Seni Pertunjukan
Penerbit:     Jual Buku Sastra @penerbitjbs
Ukuran:     13 x 19 cm, bookpaper
Tebal:     138 halaman, softcover, pembatas buku
Terbit:     November 2022
ISBN:     978-623-7904-56-4


Buku ini bacaan “jalang”. Dari kumpulan catatan, ulasan, penelitian, timbangan, dan esai-esai ia dihadirkan. Biar bisa menembus tudung kepalamu dengan cukup baik, mereka disusun, diramu, ditulis ulang, menjadi sebuah antologi esai. Mereka tersimpan dalam rentang sekira sepuluh tahun. Aku merasa ada yang menguntitku setiap kali sepulang menonton, selepas turun dari panggung pertunjukan, sesudah cekat ngeri menyisakan berkas cemas tapi juga sembul harap.

Setelah kata-kata dipakaikan kerangka perasaan dan pikiran, aku menganggitnya lebih baik bersama tangan terampil sejumlah kenalan dan teman (beberapa kusebut namanya dalam prakata buku ini). Mereka yang turut berbagi cerita pengalaman adalah juga kesempatan baik bagiku untuk terus menulis.

Penerbitan buku ini merupakan sebagian “jalan ninja” yang aku dan mungkin juga beberapa teman-teman lain pilih. Ia didorong sebuah repihan motivasi. Dari depan panggung dan layar, sesudah peristiwa pertunjukan digelar, penggalan kisah kehidupan manusia terlalu berharga bila dilewatkan tanpa pemaknaan. 

Bersama lima sekawan Vladimir, Estragon, Pozzon, Lucky, dan Boy, semoga aku dan kamu dapat berpikir ulang atas sesuatu atau situasi tidak pasti bernama “Godot”--yang sesungguhnya menawarkan peluang baik. Sebuah ikhtiar yang sudah dan akan selalu diperlihatkan oleh inovasi-inovasi sajian seni pertunjukan mutakhir. 

Jika Anda ingin mendapatkan buku ini, silakan memesan via WhatsApp dengan klik https://tinyurl.com/PanggungSindirwara. Selamat membaca, dan semoga berkenan.