![]() |
Twenty Years Rights/A24 FILMS |
Dua insan tak berinsang berenang-renang
Wanita cari jangkau pamor negeri kiblat sinema dunia
Lelaki pemalu (?) memanjat tebing kuliah
![]() |
Twenty Years Rights/A24 FILMS |
Bisakah aku menjadi tuhan atas hariku?
Hari ini Minggu, sedang Senin tak bisa sabar menunggu.
Selamat membaca dan selamat berhari Minggu!
(1)
Penyair, Penyiar
Hari ini Minggu.
Dan sudah kulihat hiruk-pikuk di tubuh Seninmu:
Tentang mata hari yang ingin terbangun di pagi sekali
Mengintip terikkan matamu yang terpejam
Gopoh yang ingin membalikkan waktu agar tak kembali
seperti Senin lalu-lalu
Saat datang cepat-cepat, tapi masih tetap terlambat
Kehendak yang membelot di saat rapat
Bagaimana gelisah hasrat sarapanmu mana sempat
“Hai, hari Minggu…”
Cobalah usapkan salam itu di atas kelopak matamu.
Dengan perlahan, melembut
Usahlah melirik kanan-kiri hari lain.
Ini hari kau yang punya
Hari ini Minggu, Su.
Meski kau tahu, kata orang, ini harinya Tuhan
Kau bisa bilang
“Aku tuhannya hari, sedang
nyata harinya Tuhan hanyalah satu kali.”
Meruya, Jakarta Barat, 26/3/2023
-RR-
#puisianagram #24
(2)
Raja Ajar
: para pelajar, terutama di NTT
Hari ini Minggu, Su.
Tapi seganmu sudah offside mendahului ritus upacara Seninmu.
Merah dan putih yang berbanding posisi super dan infer.
Padahal bila mencampur dan menyatu ‘kan menjambu ceria.
Instruksi pemimpin upacara yang itu-itu saja
Sedang arahan kepala pembina
jadi lantunan menyejukkan rasa kantuk
atau jangan-jangan metode pengalih hati
yang suntuk-ingin merutuk
Kau dan teman-temanmu bergunjing
tentang siapa di antara para guru
paling pintar sekaligus murah hati memberi biji,
meskipun tidak seberapa jelita dan wibawa.
Kutahu Su, kau tak enak bila dapat dispensasi lagi, lagi dan lagi
untuk kembali ikut lomba karateka
Kutahu Su, memar di lenganmu
Jejak jerih usahamu yang akan terasa sia-sia
dalam bayangan guru sains dan matematika
serta di hadapan bakul cilor dan cilok yang menantimu
di depan
pintu gerbang
kemerdekaan
dari
sebuah
lembaga
tempat kita
belajar menata Sang Kata-kata.
Yang semestinya:
dengan bebas, merdeka, berdaulat,
adil sejak dalam pikiran,
makmur bila nyaman, aman, dan menghibur perasaan
--tentu ‘kan menghasilkan cuan.
Titip salam salim, Su,
untuk guru-guru di sekolahmu yang lucu-lucu
semoga makin peka mendengarkan curhatku
setia untuk bersiap digugu dan ditiru.
Meruya, Jakarta Barat,
26/3/2023
-RR-
#puisianagram #25
(Anna Kendrick dan Jeremy Jordan usai bernyanyi
“Goodbye Until Tomorrow”)
(3)
Tebas Sebat
…
Hari ini, Minggu, Su
Habiskan rokokmu,
tandaskan kopimu
Mari, kembali bersenangkan hati
Menyiul-usilkan Kata
Memuaskan rasa
Sebelum bertemu di Sabtu
bilamana mengerjakan kata,
‘tuk merenda makna
dan menjelmakan mantra untuk orang-orang
yang gebalau atau gundah gulana.
Mereka memanjatkannya
pelan-pelan, merambat dari kanan ke kiri,
Tak hendak berlari,
alih-alih melamban,
sampai ke tujuan:
melipur jiwa
menitikkan api renjana
Meruya, Jakarta Barat,
26/3/2023
-RR-
#puisianagram #26
Kata merasa cemas hari ini akan bertemu dengan siapa.
Apakah Nasib atau Nasab yang menentukan pilihan daur hidup baginya selanjutnya?
Situasi mana yang akan dia jumpai: Bencanakah atau Beruntung?
Kata tak pernah mengenal libur.
Ia selalu dipermainkan dalam raung ruang dan masa.
Dilabeli, dipilah-pisah, dipilih-sisih, dipermainkan, dan dipermanfaatkan.
Maka tak pelak, ia juga dimanipulasi, dibelokkan, dan disembunyikan alih-alih dibunyikan.
"Kureng," kata seorang pemuda penggunanya,
suatu kali, mencandai temannya yang menjajal blus polkadot.
Tak lupa emotikon senyum cengir terukir di wajahnya.
"Membagongkan!" seorang remaja lain menyeru lirih lewat teks di gawai.
Kata terpana: dirinya seperti lahir kembali dan reinkarnasi
dari tokoh punakawan setengah jenaka dan setengah rupawan itu.
Salam ramah "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
dari seorang petinggi malah merisaukan dan menimbulkan amarah
setelah diikuti pengumuman buruk lembaga pemerintah.
Kata pasrah, mulai lelah. Sekali ini ia ingin mengambil jarak--menepi dan rehat.
Melihat Kata bekerja tak ingat waktu, si penyair menggambar saja.
Menonaktifkan Kata agar sedia bermati raga sejenak sekira untuk sebulan.
Lihat, diam-diam, dalam baringan lemas, Kata masih berpikir keras.
Pandangannya awas, takut kalau-kalau ketinggalan kabar terbaru.
”Ssst… Jangan berisik,” penyair berbisik pelan.
“Selamat beristirahat, Kata.”
(Mariana)
-R.R-
22-23/03/2023, lewat tengah malam.
#puisianagram #22
![]() |
| Tesalonika, Yunani by 𝘎𝘦𝘰𝘳𝘨𝘦 𝘋𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬𝘪𝘴 (Twitter/@Futura_Noir) |
![]() |
| Adegan wangsa merah dalam lakon teater musikal Violet: Warna yang Berbeda, 27-29 Januari 2023./Dok. Teater Svatuhari |
Seusai tirai panggung menutup, lalu penonton bertepuk tangan dan bangkit dari bangkunya untuk membalikkan langkah, para pemeran telah menanggalkan pakaiannya. Riasannya. Karakter yang dimainkan pun perlahan melepas dari kesadaran tubuh sebagai manusia senyatanya. Perlahan, keadaan dan kesadaran pemeran kembali menjadi diri sendiri dengan identitasnya masing-masing yang bukan karakter atau tokoh cerita.
Namun, sebagai aktor pemeran, bagaimanakah cara baik untuk melepas karakter yang sudah dipentaskan di atas panggung agar tak terbawa dalam kehidupan nyata? Berikut langkah-langkah pelepasan karakter yang dihimpun dari ilmu guru akting dan pengalaman saya.
1) Mula-mula, selalu sadarilah untuk mengatur helaan napas dengan teratur. Dalam kondisi tenang, tariklah napas perlahan, tahan sebentar, embuskan pelan-pelan. Sebagai situasi bersyarat, letakkanlah di hadapan kita kostum dan properti yang kita kenakan saat memainkan karakter.
Sampaikan terima kasih kepada nama karakter (sebutkan namanya) yang telah kita mainkan sambil menatap, memegang, dan mengusap properti dan kostum karakter yang telah kita kenakan. Jika kau ingin memeluknya, peluklah. Ucapkan terima kasih atas emosi, pikiran, energi, dan kisah hidup si karakter yang telah kita hidupi di atas panggung.
2) Sempatkan pula hening sejenak. Biarkan karakter itu berbicara kepada kita--bila ia ingin mengatakan sesuatu kepada kita.
3) Terakhir, sampaikan maaf kepada nama karakter itu untuk kekeliruan atau kelalaian selama proses penghidupan karakter di atas panggung. Sampaikan terima kasih sekali lagi kepadanya, dan… “sampai jumpa di lain waktu”.
4) Setelah melepas karakter, maka kita kembali pada setelan diri sebagai “aku-aktor” dan “aku-diri”. Sebagai misal, aku seorang anak lelaki, dengan kecenderungan highly sensitive person, suka camilan keju dan sop iga, Sobat Padi-Romanisti-Manchunian, penulis, punya cicilan KPR, dan sebagainya.
Sebagai “aku-diri”, kembalilah untuk melakukan hal-hal paling kamu sukai yang 180 derajat berbeda dari kebiasaan “aku-karakter”: makanan kesukaanmu, pakaian atau outwear kesayanganmu, gaya rambut favoritmu (bila perlu jajal style terbaru yang cocok denganmu), hingga mengerjakan tanggung jawab keseharianmu. Jika kau memiliki keluarga dan orang terdekat yang dapat segera kaujumpai, hampirilah dan peluklah mereka--orangtua, pasangan, saudara, keponakan, dan anak-anakmu.
5) Sebagai “aku-aktor”, sebaiknya latihan sederhana keaktoran kudu dilanjutkan. Olahraga rutin sepekan tiga kali, training ketubuhan, mengakses informasi tentang seni peran dan pertunjukan…, intinya meminjam lirik lagu band Perunggu, “Terus berenang dan lanjutlah mendaki.” Mengasah dan mengawetkan kecakapan seni akting, bahkan meningkatkannya agar selalu siap-sedia jika sewaktu-waktu diperlukan untuk produksi karya pemeranan.
6) Jika ada kebiasaan baru dan positif sepanjang proses training dan rehearsal dalam produksi yang baru usai, tak salah untuk terus dilakoni. Khususnya bila perilaku itu membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik: secara kognitif, afektif, dan motorik. Begitu pun bila ada kebiasaan negatif yang mulai berkurang karena melakukan kebiasaan baru selama proses produksi, sisihkanlah gaya hidup buruk itu. Alihkan minat dan perhatian dengan menjalani perilaku dan pola pikir baru dan lebih bermanfaat. Namun, sungguhpun teater malah memberimu dampak buruk, tidak salah jika kau meninggalkannya. Kembalilah ke “jalan yang benar”. Sebelum kau menyesal. :)
Temui lagi komunitas positif, tetap berhati-hati dengan pengaruh negatif. Terimalah ia sebagai bagian dari warna kehidupan tetapi jangan diadopsi. Sebab “pergaulan buruk merusak kebiasaan baik”.
Beberapa pokok pelepasan karakter itu dapat diterapkan dan dikembang-sesuaikan secara pribadi. Terima kasih dan sampai jumpa di pertunjukan berikutnya. Salam olahraga, salam budaya!
Hariku tidak bersamanya lagi.
Dia telah pergi…, ataukah aku yang meninggalkannya.
Tak sengaja atau tak sadar meninggalkannya.
Pastinya, aku menanggalkannya. Lalu lalai, dan tak lagi menggamitnya.
Segera meninggalkannya, tanpa benar-benar mengawasi pandanganku darinya.
Lagi, aku seakan harus mengejar waktu, atau sesuatu, tapi seperti tanpa beban menanggalkan yang kumiliki, yang kubawa dan kukenakan selama perjalanan.
Mereka yang pergi, dan tinggal aku yang merasa kehilangan:
Sepasang sandal.
Topi.
Kacamata.
Tumbler atawa botol minum.
Sebuah buku puisi Mas Kiki.
Setumpuk buku terbitan organisasi kampus.
Mungkin akan ada yang lain… juga kekasih.
Aku ingin berhenti. Please, stop!
Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, kataku suatu kali kepada mantan kekasih.
Akhirnya sampai aku menuliskan ini, aku belum bebas dari penyakit lupa dan komplikasinya.
Hingga aku berkesimpulan, bahwa:
Hidup hanya menunda kehilangan…
atau menunggumu hilang ingatan
dan menyadari betapa ruginya lalai, lupa,
dan lain-lain polah laku atas nama “ketinggalan”.
Kehilangan ini membuatku tak lagi bersamanya. Kehilangan ini juga menegurku pada pepatah-petitih yang kucatat beberapa tahun silam.
“Jangan pernah menanggalkan sesuatu dengan sengaja untuk waktu lama tanpa menitipkannya
pada seseorang yang kaupercaya.”
Seperti pedang-pedangan yang dititipkan Kukuh, teman setimku, padaku.
Sembari memberikannya padaku untuk kubawa pulang, dia berpesan, “Gua percayain ini untuk lu bawa ya.”
Oke, kataku. Sedang sejurus kemudian aku kerepotan karena harus membawa dua properti:
pengganti pedang-pedangan dari rotan milikku, dan pedang-pedangan kayu dari Kukuh.
Berangkat latihan teater aku membawa satu pedang, saat pulang membawa dua.
Di Karet, di Karet, tempat aku latihan teater sekarang.
Dari Karet, dari Karet. Aku membawa dua pedang.
Nah, sesampai di rumah di Pasar Minggu, aku baru mendapat kabar:
Tas wadah pakaianku ketinggalan. Aku biasa membawa dua tas: satu tas punggung, satu tas cangklong.
Aku masih belum awas dengan apa-apa yang kupunya.
Ataukah aku masih meleng dengan pikiranku.
Aku seperti butuh tenaga pengingat ‘reminder’ buat mengingatkan:
Segala yang kita punya memang tidak abadi, tetapi selama masih di dunia marilah sedikit lebih menghargai.
Selamat Tahun Baru 2023
5 November 2022, 31 Desember 2022
/RR/